TEORI-TEORI BELAJAR DAN APLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN
DI SEKOLAH DASAR
Sari Yustiana
Teori belajar mempelajari tentang
bagaimana seorang anak dapat belajar atau mendapatkan pengetahuannya. Semua
teori belajar yang ada dapat memberikan kontribusi pada pembelajaran di kelas,
khusunya di SD. Karena teori belajar ini saling terkait antara satu dan yang
lain, sehingga pemaknaannya juga tidak bisa terpisahkan. Teori
belajar yang terus berkembang memunculkan teori-teori baru. Pendekatan Baru
pada teori belajar yaitu pendekatan pada Tehnologi berupa teori Konektivisme
dan Model Pembelajaran Online. Sebelum muncul teori baru tersebut Teori
Belajar Pernah didasari oleh teori Behaviorisme. Kemudian Behaviorisme
perlahan-lahan digeser oleh Pendekatan Kognitif. Teori yanga merupakan bagian
dari teori utama. Pada Pendekatan Kognitif yang baru ialah Kognitif
Terdistribusi. Sedangkan pandangan tradisional dari Pendekatan Kognitif ini
berupa Pemrosesan Informasi, selain itu juga adanya teori Sosial
Kognitif, dan Teori Belajar Bermakna. Teori utama yang lain, selaian
Pendekatan Kognisi, ialah Perkembangan Kognitif. Secara garis besar meliputi Teori
Kognitif, Teori Sosiokultural dan Belajar Penemuan. Teori
Sosiokultural mengarah pada Teori Aktivitas. Kemudian Teori Sosiokultural
dan Belajar Penemuan mengarah pada Konstruktivisme. Konstruktivieme
memunculkan Magang Kognitif yang mendukung Kognisi Berkonteks.
Teori belajar sebagai dasar dari
pelaksanaan pendidikan, atau secara khusus pada tingkat pembelajaran dalam
kelas terus berkembang sejalan dengan berkembangnya ilmu-ilmu pendidikan.
Pendekatan teknologi baru pada teori pendidikan ini mengarah pada dua hal yaitu
Konektifisme berdasarkan Siemens dan Model Belajar Online berdasarkan Anderson.
Konektifisme merupakan teori baru pembelajaran di era digital. Munculnya
Konektifisme menurut Siemens, 2004) berdasarkan anggapan bahwa teori-tori
belajar behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme, merupakan teori yag
dikembangkan sebelum pembelajaran dipengaruhi oleh teknologi, sedangkan dua
puluh tahun terakhir ini telah berkembang teknologi yang mengatur ulang cara
hidup, berkomunikasi, dan cara belajar. Pergeseran elemen-elemen tersebut tidak
sepenuhnya dalam kendali individu, dan mungkin saja berada pada peralatan
non-manusia. Olehkarena itu dibutuhkan pembelajaran yang fleksibel untuk
berubah saat dibutuhkan, inilah salah satu nilai dari Konektivisme dan Konektivisme
ini mendukung pembelajaran berbasis komputer. Salah satu aspek dari
Konektivisme adalah penggunaan jaringan yang terdiri dari node (simpul) dan
koneksi sebagai metafora pusat pembelajaran (Duplaa & Talaat dalam
Mohammad, Ecole & Morocco, 2020). Metafora pada nilai Konektivisme ini
merupakan kemampuan untuk melihat pola hubungan ide dan konsep. Hubungan yang
dimaksud saling terintegrasi dengan kompleksitas organisasi mandiri, serta
dengan masalah-masalah yang muncul.
Pendekatan teknologi baru pada teori
belajar juga berupa Model belajar Online. Model Belajar Online salah
satunya dikemukaan oleh Anderson (2011). Model pembelajaran online berkaitan
dengan Konektifisme. Anderson menyatakan bahwa saat ini institusi pendidikan
telah bergerak menuju penggunaan Internet. Pembelajaran online ini memberikan
manfaat besar. Bagi siswa pembelajaran online tidak mengenal zona waktu, lokasi
dan jarak. Siswa dapat mengakses materi online kapan saja, mereka juga dapat
mengakses materi yang relevan dan terkini, selain itu siswa juga dapat
mengontekstualisasikan pembelajaran. Bagi guru, kelas bisa dilakukan kapanpun,
dimanapun. Materi online dapat diperbarui, dan siawa dapat melihat perubahannya
dengan segera. Jika dirancang dengan benar, sistem pembelajaran online dapat digunakan
untuk menentukan kebutuhan dan tingkat keahlian siawa saat ini, dan untuk
menetapkan materi yang sesuai untuk dipilih peserta, untuk mencapai hasil
pembelajaran yang diinginkan. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat bahwa Model
Pembelajaran Online mengintegrasikan pelajar, komunitas, pengetahuan, serta
penilaian dalam kerangka pembelajaran menggunakan internet.
Dua pendekatan teknologi yang merupakan
pendekatan baru pada teori belajar yang dijelaskan diatas tentunya menjadi
dasar juga pada pembelajaran di SD. Pada zaman dimana teknologi terus
berkembang, pembelajaran si SD juga perlu menyesuaikan. Apa lagi siswa SD
sekarang tidak bisa terlepas dari teknologi, misalnya TV atau telefon pintar
yang mereka gunakan setiap hari. Karena alasan keunggulan Model Pembelajaran
Online seperti yang dijelaskan diatas, alih-alih menganggap telefon pintar
sebagai “pengganggu” dalam kegiatan belajar anak, lebih baik memanfaatkan
teknologi tersebut untuk membantu pembelajaran.
Sebelum adanya pendekatan teknologi diatas,
teori belajar didasari oleh teori Behaviorisme sebagai teori utama. Behaviorisme
percaya bahwa studi pembelajaran harus dibatasi pada studi tentang perilaku
yang dapat diamati (Arend & Kilcher, 2010). Aplikasi Behaviorisme meliputi
analisis perilaku terapan, penguasaan pembelajaran, instruksi terprogram,
tujuan instruksional, dan kontrak kontingensi. John B. Watson berpendapat bahwa
pendekatan ilmiah terhadap perkembangan harus berfokus pada perilaku yang dapat
diamati saja, dan bukan pada hal-hal seperti pikiran, fantasi, dan gambaran
mental lainnya (Shunk, 2014).
Behaviorisme
ditandai dengan motivasi ekstrensik. Seperti yang dikatakan Thorndike (Hergenhahn
& Olson, 2010) bahwa penekanan pembelajaran ialah pada motivasi eksternal
bukan oleh instrinsik. Lebih lanjut dikatakan pula bahwa, pembelajaran
berkaitan dengan sitimulus dan respon. Selain Thorndike, Behaviorisme juga
dikemukakan oleh Pavlov. Pavlov menandai stimulus / respon dengan pengkondisian
klasik. Pavlov juga menyatakan bahwa stimulus apa pun yang dirasakan dapat
dikondisikan untuk respon apa pun yang dapat dibuat (Schunk, 2012). Kemudian
respons tidak disengaja karena stimulus menjadi terkait dengan respons
refleksif. Pandangan Behavior menurut Skinner ditandai dengan adanya
pengkondisian operan yang ciri utamany adalah pemberian hadiah dan hukuman.
Hadiah bukan berarti berbentuk benda, namun dapat berupa pujian jika anak
berperilaku baik, atau patuh.Bentuk pujuan seperti ini harus dilakukan secepatnya,
atau sesaat setelah perilaku terjadi. Namun perlu dipahami juga oleh guru,
terutama guru SD bahwa adanya batasan dalam pemberian hadiah dan hukuman ini.
Terdapat kritik pada teori pemberian penguatan (berupa hadiah dan hukuman),
bahwa pemberian penguatan ini tidak meningkatkan motivasi dan pembelajaran
siswa, tetapi menghasilkan efek yang berlawanan dan mengarah pada pemenuhan,
sehingga perlu adanya strategi motivasi ektrensik dan intrinsic yang seimbang
(Kohn,1995, 1996, Noddings 2001, 2006, Oakes & Lipton 2006 dalam Arend
& Kilcher, 2010).
Selain pemberian hadiah, pemberian hukuman
juga merupakan konsep dasar dari teori Behavior yang sering diterapkan di SD.
Guru-guru sering memberikan hukuman untuk menekan perilaku yang tidak
diinginkan. Namun perlu dipahami bahwa terdapat batasan-batasan dalam pemberian
hukuman, seperti yang dikemukakan oleh Rathus (2014), yaitu: (1) mengubah
stimulus-stimulus diskriminatif, contohna memisahkan tempat duduk siswa yang
berperilaku buruk dari siswa yang lain; (2) membiarkan perilaku yang tidak
diinginkan terus berlanjut;(3) menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan;
(4) mengondisikan perilaku yang tidak sesuai. Keunggulan dari teori
Behaviorisme ialah: jelas tujuan/sasarannya, dan teori ini cocok digunakan
untuk siswa yang membutuhkan rutinitas.
Teori Behaviorisme yang dulunya sangat
mendominasi pandangan tentang belajar anak, perlahan-lahan digeser oleh Pendekatan
Kognitif, yang merupakan bagian dari teori utama. Pada Pendekatan Kognitif
yang baru ialah Kognitif Terdistribusi yang dikemukakan oleh Hutchins
(2001). Teori Kognisi terdistribusi ini sama seperti cabang ilmu kognisi
lainnya yang berusaha memahami organisasi sistem kognitif. Seperti pada teori
kognisi yang lain, dibutuhkan proses kognisi untuk menjadi proses yang terlibat
dalam memori, pengambilan keputusan, inferensi, penalaran, pembelajaran, dll.
Kognisi Terdistribusi ini menilai alat, artefak dan pola. Karena adanya sebuah
pola, maka pada konsep pemecahan masalah menekankan pada kolaborasi tim.
Prinsip dari Kognisi Terdistribusi ialah bahwa tujuan berorientasi pada system
dan mungkin abstrak, pembelajaran dapat didistribusikan ke seluruh individu,
setiap proses dapat didistribusikan seiring waktu, dapat mengkootdinasikan
struktur internal dan eksternal, dapat mendistribusikan orang, alat atau waktu,
terakhir ialah tidak selalu membedakan orang dan alat sebagai sesuatu yang
terpisah. Contoh dari Kognisi Terdistribusi ini ialah jejaring sosial via
teknologi.
Seperti yang telah dijelaska diatas, teori
Kognisi Terdistribusi menekankan pada organisasi sistem kognitif yang
didalamnya menilai alat dan pola. Pada pembelajaran di SD teori ini dapat
mendasari pengkajian interaksi antar individu, representasi media yang
digunakan, dan lingkungan dimana kegiatan tersebut (ketiganya merupakan sebuah
pola). Pola tersebut dapat digambarkan sebagai sebuah system yang mempengaruhi
fungsi individu, alatm dan hubungan diantaranya. Sehingga guru dapat
mempersiapkan pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal lain yang terkait
dengan pembelajaran itu sendiri.
Selain pandangan baru pada Pendekatan
Kognitif yang telah dijelaskan diatas, terdapat pula pandangan tradisional
berupa Teori Pemrosesan Informasi, selain itu juga adanya teori Sosial
Kognitif, dan Teori Belajar Bermakna. Masing-masing teori ini saling terkait,
sehingga memiliki hubungan pada bagian-bagiannya, dan memiliki kontribusi pada
pembelajaran di SD.
Teori pada Pendekatan Kognitif yang
pertama ialah Teori Pemrosesan Informasi yang dikemukakan oleh Piaget
(1965). Tidak seperti Behaviorisme yang menganggap bahwa seseorang memberi
respon jika ada stimulus yang diberikan pada meraka, Teori Pemrosesan Informasi
berpendapat bahwa orang menyeleksi dan memperhatikan aspek-aspek dari
lingkungan, mentransformasikan dan mengulang informasi, menghubungkan
informasi-informasi yang baru dengan pengetahuan yang telah diperoleh
sebelumnya, dan mengorganisasikan pengetahuan untuk membuatnya bermakna atau
dapat dipahami (Mayer, 1996). Sehingga salah satu fokus utama dari teori ini
ialah bagaimana seseorang memandang dan mengingat info.
Berdasarkan Piaget (1965), Pengolahan
Informasi kognitif ditandai dengan skema menggabungkan analisi, tingkat
metakognisi, rekonstruksi pengetahuan yang ada, adanya tinjauan sebelum
pengenalan materi baru dengan menghubungkan pada materi tradisional, pengenalan pola, pencitraan, serta adanya
usaha reflektif yang mengarah pada konflik yang mengarah pada pembentukan
pengetahuan baru.
Teori Pemrosesan Informasi mengibaratkan
fungsi otal/mental manusia seperti prosesor computer. Ditandai dengan model
pemrosesan informasi 3-tahap. Informasi 3-tahap ini dikemukakan oleh Atkinson
& Shiffrin (1968), dimana 3 tahap pemrosesan informasi tersebut ialah
register sensorik sebagai penerima input, memori jangka pendek (memori kerja),
dan memori jangka panjang. Menurut Atkinston dan Shiffrin ini, pengolahan
informasi dumulai sejak input masuk, register sensorik yang sesuai (seusia
indra penerima) menerima input dan mengirimkan pada memori jangka pendek. Pada
memori jangka pendek terjadi pengenalan pola (persepsi). Memori jangka pendek
mempertahankan input sensorik, dilakukan pengulangan jika perlu, penghafalan,
atau tinjauan terhadap input tersebut. Selanjutnya, ketika informasi berada
pada memori jangka pendek informasi tersebut akan dikodekan, memori jangka
panjang diaktifkan, dan menempatkan informasi tersebut untuk digabungkan dengan
informasi baru tersebut pada “ruang penyimpanan”. Memori jangka Panjang ini
dianggap sebagai memori permanen, dan kapasitasnya tidak terbatas.
Pada Teori Pemrosesan Informasi juga
terdapat konsep perhatian, dimana informasi yang diberi perhatian akan
ditindaklanjuti hingga tersimpan pada memori jangka panjang, dan informasi yang
tidak diberi perhatian akan dilupakan. Konsep Perhatian ini lah yang perlu
diperhatian oleh guru, terutama guru SD. Agar materi dapat diperhatikan oleh
siswa, perlu adanya pemberian priming. Untuk menarik perhatian siswa,
guru dapat menarik perhatian siswa dengan memeri konteks pada informasi. Hal
ini seperti yang dikemukakan oleh Norman (Schunk, 2012) bahwa sebuah input akan
cenderung lebih mendapatkan perhatian jika input tersebut sesuai dengan konteks
yang dibangun oleh input-input sebelumnya. Pemberian konteks pada materi dapat
dilakukan oleh guru dengan menghubungkan materi yang akan diajarkan dengan
pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Dalam penghubungan materi lama dengan
materi baru, guru dapat menggunakan advance organizers sebagai alat
bantunya.
Teori lain yang berasal dari konsep
pemikiran Pendekatan Kognitif ialah Teori Kognitif Soial. Teori ini dikemukakan
oleh Bandura. Tori Kognisi sosial mendiskusikan perilaku manusia dalam sebuah
kerangka timbal-balik tiga sisi, di mana faktor-faktor pribadi berupa peristiwa
kognitif, afektif dan biologis, pola perilaku, dan peristiwa lingkungan
semuanya beroperasi sebagai penentu interaksi yang saling mempengaruhi secara
dua arah. Pada pandangan kognisi sosial anak dipandang sebagai pribadi yang
aktif. Anak-anak dengan sengaja mencari atau menciptakan lingkungan di mana
tersedia penguat (Rathus, 2014). Dalam teori ini, agen manusia tertanam dalam
teori diri yang mencakup mekanisme pengaturan diri, proaktif, refleksi diri dan
pengaturan diri (Bandura, 1999). Adanya pengaturan diri ini merupakan
keunggulan dari teori ini bahwa, teori ini baik untuk siswa yang membutuhkan
rutinitas. Karena Kognitif Sosial membangun asosiasi melalui pengulangan dan
kontinuitas. Selain itu keunggulan lain dari teori ini ialah adanya sasaran
atau tujuan yang jelas.
Teori Kognisi Sosial ditandai dengan
adanya pemodelan, scaffolding, tujuan / sasaran yang jelas, retensi
(aktivitas mereproduksi). Karekteristik lain yaitu: perhatian, motivasi
instrinsik, dan koneksi pengetahuan sebelumnya dengan informasi baru, sama
dengan yang dikemukakan oleh Teori Pemrosesan Informasi. Pemodelan merupakan
bagian dari belajar dengan mengamati orang lain. Pemodelan seringkali disamakan
dengan peniruan, tetapi pemodelan adalah konsep yang luas cakupannya (Schunk,
2012). Selanjutnya, yang dimaksud Scaffolding ialah bantuan dari guru
atau orang tua untuk mempersiapkan anak memecahkan masalah (Rathus, 2014). Adanya
bantuan dari orang lain ini menandakan bahwa anak belajar melalui interaksi
sosial, yang merupakan Premis Utama dari teori ini. Pembelajaran pada Teori
Kognisi Sosial dipandang lebih otentik jika dilakukan dalam situasi kehidupan
nyata, sehingga anak lebih aktif dan memungkin ia belajar dari konsekuensi
tindaknnya sendiri.
Aplikasi Teori Kognisi Sosial dalam
pembelajaran khususnya di SD dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama
dengan mengambil konsep pemodelan, guru dapat bertindak sebagai model bagi
siswa. Sehingga guru harus memastikan apa yang disampaikan kepada siswa sesuai
dengan tindakan-tindakan mereka sendiri. Dalam studi-studi dimana model (dalam
hal ini guru) bertindak dengan suatu cara lalu mengatakan pada siswa untuk
bertindak dengan cara lain, anak-anak ternyata lebih dipengaruhi oleh tindakan
dari pada verbalisasi (Bryan & Walbek, 1970). Aplikasi lainnya yaitu dengan
menerapkan scaffolding dalam kelas.Scaffolding dapat dilakukan
langsung oleh guru dengan memberikan
“pancingan-pancingan” materi pada siswa, atau dapat pula dilakukan dengan
menerapkan penugasan kelompok dimana siswa dapat saling membantu.
Teori selanjutnya sebagai pandangan tradisional
dari Pendekatan Kognitif ialah Teori Belajar Bermakna. Pada Teori
Belajar Bermakna (Ausubel, 1962), membedakan pembelajran bermakna dengan
pembelajaran hafalan. Ausubel menjelaskan bahwa materi yang dipelajari dari
hafalan jauh berbeda dengan yang dipelajari secara bermakna pada konsep
kesadaran, dan prinsip belajar dan melupakan (seperti yang dijelaskan pada
Teori Pemrosesan Informasi). materi yang dipelajari secara bermakna telah
dikaitkan dengan konsep yang ada dalam struktur kognitif dengan cara yang
memungkinkan pemahaman berbagai jenis hubungan yang signifikan. Sebagian besar
materi baru yang ditemui siswa di lingkungan sekolah dapat dikaitkan dengan
latar belakang ide dan informasi bermakna yang telah dipelajari sebelumnya.
Disis lain, materi yang diajarkan dengan hafalan belum tentu terkait dengan
konsep dan struktur kognisi siswa (tergantung pada keterkaitan logis dengan
konsep yang telah ada, dan bisa jadi bermakna atau tidak). Karena materi
hafalan tersebut tidak terdapat pada pengetahuan awal yang ada, materi yang
dipelajari dari hafalan jauh lebih rentan untuk dilupakan, yaitu memiliki
rentang retensi yang jauh lebih pendek.
Teori Pembelajaran Bermakna menjelaskan
bahwa pengetahuan diorganisasi dalam ingatan seseorang dalam struktur
hierarkis. Artinya bahwa pengetahuan yang lebih umum, inklusif, dan abstrak
membawahi pengetahuan yang lebih spesifik dan konkret. Demikian juga
pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu, akan dapat
memudahkan perolehan pengetahuan baru yang lebih rinci (Budiningsih, 2005). Pada
Pembelajaran Bermakna, siswa dibimbing dalam konteks pembelajaran otentik untuk
kebermaknaan. Pembelajaran otentik berdasarkan konteks dapat dilakukan dengan
Pembelajaran Kontekstual. Bagi siswa SD, pembelajaran kontekstual ini sangat
disarankan karena sesuai bagi siswa SD karena menekankan pada sesuatu yang
nyata, dan bermakna. Dalam Pembelajaran Kontekstual menekankan pada hubungan
antara tugas-tugas yang diberikan dengan keadanyan didunia nyata, sehingga akan
mampu menerapaknya di dunia nyata (Granello, 2000).
Sama seperti Teori Pemrosesan Informasi,
pada Teori Pembelajaran Bermakna juga memanfaatkan advance organizers. Jika
ditata dengan baik, advance organizers akan memudahkan siswa mempelajari
materi pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan materi yang dipelajari
(Budiningsih, 2005). Advance organizers dapat dimanfaatkan guru SD sebagai
aplikasi teori ini dalam kelas, sebelum memulai pelajaran, untuk mengetahui
pemahaman awal siswa. Agar lebih menarik, advance organizers dapat
dibuat dengan spodol warna-warni dan diserta gambar-gambar. Untuk mengetahui
pengetahuan awal siswa, guru dapat menggabungkan tingkat metakognisi yang
memanfaatkan menghubungkan, memprediksi, mempertanyakan. Tujuan dari
Pembelajaran Bermakna ini ialah agar materi yang tersampaikan dapat lebih
menarik dan nyata (dengan pembelajaran kontekstual) sehingga materi akan
tersimpan dalam memori jangka Panjang.
Selanjutnya Pendekatan Kognitif meluas
pada Perkembangan Kognitif. Teori-teori pada Perkembangan Kognitif merupakan
teori-teori belajar baru. Disini terdapat Teori Kognitif, Teori Sosiokulturan
dan Belajar Penemuan. Teori Kognitif dikemukakan oleh Piaget dalam
bukunya The Origins of Integence in Children (1965). Teori kognitif
percaya bahwa pembelajaran terjadi sebelum perkembangan, serta pengetahuan
memiliki fungsi biologis dan muncul dari tindakan. Teori ini berpusat pada
siswa, bahwa belajar tergantung kesiapan kognitif individu. Fokus utamanya
yaitu bagaimana struktur kognisi berubah, bahwa pengetahuan terdiri dari
struktur kognitif yang secara alami berubah dari penggunaan. Teori kognitif
menggabungkan 4 tahapan yang terdiri dari sensorimotor (lahir-2),
praoperasional (2-7), operasional konkret (7-11), operasional formal (11>). Teori
kognitif menggunakan 3 jenis pengetahuan fisik (objek adalah sumber), ogika
(tindakan matematika adalah sumber), sosial (orang adalah sumber). teori
kognitif meliputi asimilasi (info baru mirip dengan apa yang sudah diketahui),
akomodasi (info baru berbeda dengan apa yang sudah diketahui), dan equilibrasi,
yang semuanya terlibat dalam pertumbuhan kognitif. Equilibrasi menurut Duncan
(Shunk, 2012) ialah dorongan biologis untuk menciptakan sebuah kondisi
keseimbangan antara equilibrium (adaptasi) yang optimal antara
struktur-struktur kognitif dan lingkungan. Ekuilibrasi merupakan dorongan utama
dalam motivasi pada perkembangan kognitif. Batasan dari teori ini ialah tidak
memeriksa Bahasa diluar struktur kognitif, dan gagal mengenali sifat “tidak
sistemik” dari anak-anak. Pada perkembangan teori belajar Teori Kognitif ini
mempengaruhi Teori Kontrusktifisme.
Implikasi Teori Kognitif ini pada
pembelajaran di SD, dapat diadaptasi dari apa yang diungkapkan oleh Shunk
(2012) yaitu: (1) Pahami Perkembangan Kognitifnya, guru akan mendapatkan
keuntungan jika memahami pada level-level apa siswanya menjalankan fungsinya,
dan menjalankan pengajaran sesuai dengan hal itu; (2) Jaga agar siswa tetap
aktif, anak-anak membutuhkan lingkungan yang kaya yang memberikan kesempatan
untuk bereksplorasi secara aktif; (3) Ciptakan Ketidaksesuaian, maksudnya ialah
guru perlu mendesain pembelajaran dengan tidak langsung memberikan materi pada
siswa, sehingga siswa dapat menemukan materi atau jawaban sendiri, dan guru
dapat memberikan umpan balik setelahnya; (4) memberikan interaksi sosial,
lingkungan sosial merupakan bagi perkembangan kognitif sehingga kegiatan yang
memberikan interaksi sosial akan bermanfaat.
Teori lain pada Perkembangan Kognitif
ialah Teori Sosiokultural yang dikemukakan Vygotsky. Menurut Vygotsky
jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan
sejarahnya. Sehingga premis utamanya adalah budaya merupakan determinan utama
perkembangan individu. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan
cara menelusuri apa yang ada dibalik otaknya dan pada kedalaman jiwanya,
melainkan dari asal-usul tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatar
belakangi oleh sejarah hidupnya (Moll & Greenberg dalam Budiningsih, 2005).
Teori Sosiokultural menggabungkan menjelaskan, meringkas, memprediksi,
mempertanyakan, mengarah pada mengajar anak-anak baik apa dan bagaimana
berpikir yang sebagian besar melalui serta mengarah pada bahasa. Karena menurut
Vygotsky seluruh fungsi mental yang lebih tinggi berasal dari lingkungan
sosial, maka proses yang paling berpengaruh ialah bahasa (Shunk, 2012). Selain
itu Teori Sosiokulturan juga mengarah pada pemecahan masalah.
Teori Sosiokultural mengemukakan
pembelajaran yang ditingkatkan dengan bekerja di ZPD (zone of proximal
developmental). ZPD artinya “mendekati” atau “dekat”, seperti dalam kata
“kurang lebih” dan “kedekatan”. ZPD adalah sebuah rentang tugas dimana anak
dapat mengatasinya dengan bantuan orang lain yang lebih mampu. Ini mirip dengan
pemagangan. Banyak ahli menemukan bahwa anak belajar ketika bekerja dengan
orang lain yang memberikan informasi lebih banyak tentang kemampuan daripada
mereka yang menyediakan informasi yang lebih sederhana. Ketika belajar dengan
orang lain, anak cenderung menginternalisasi (atau meresapi) percakapan dan
penjelasan yang membantunya mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan. Dengan
kata lain, anak-anak tidak hanya belajar tentang makna kata dari guru, tapi
belajar cara berbicara, dan tentang bagaimana memecahkan masalah dalam sebuah
konteks kebudayaan (Rathus, 2014). Teori Sosiokultural mengemukakan
pembelajaran terjadi dalam konteks sosial yang juga merupakan aspek kunci dari Letak
Kognisi. Teori Sosiokultural ini mempengaruhi Teori Konstruktivisme, serta
mempengaruhi perkembangan Teori Aktivitas dan Kognisi Terdistribusi.
Aplikasi dari teori Sosiokultural pada
pembelajaran di SD ialah pada penggunaan ZPD dalam kelas. ZPD dapat dilakuan
dengan Guru mula-mula mengerjakan sebagain besar tugasnya, baru setelah itu
guru dan siswa berbagi tanggungjawab. Ketika siswa sudah semakin kompeten, guru
tersebut perlahan-lahan menarik pemberian bantuan pengajarannya sehingga siswa
dapat melakukan tugasnya sendiri (Campione et.al, 1984).
Teori pada Perkembangan Kognitif yang lain
ialah Belajar Penemuan yang dikemukakan oleh Bruner. Belajar
Penemuan mengemukakan (ketidaksepakatan dengan Piaget) dasar-dasar subjek apa
pun dapat diajarkan untuk usia berapa pun mengingat bahwa materinya sesuai
dengan usia / level. Belajar Penemuan ini menekankan pada pengaruh
lingkungan.dan berpusat pada guru. Hal ini dikarenakan guru mengatur
aktivitas-aktivitas di mana siswa mencari, mengolah , menelusuri dan
menyelidiki (Shunk, 2012). Teori ini menyarankan pembelajaran spiral di mana
konsep-konsep baru dibangun di atas pengetahuan sebelumnya. Sama seperti Teori
Kognitif Sosial, Belajar Penemuan juga menakankan pada modelling. Pada Belajar
Penemuan berbasis inkuiri, guru membimbing (melakukan Scaffolding) siswa
untuk menemukan fakta sendiri mengarah pada pengetahuan yang diperoleh melalui
praktik langsung dan tindakan bermakna. Menurut Bruner (Budiningsih, 2005) perkembangan
kognitif seseorang terjadi melalui tida tahap yang ditentukan oleh caranya
melihat lingkungan, yaitu: Enaktif, Ikonik dan Simbolik. Tahap Enaktif ,
berarti seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami
lingkungan sekitarnya. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak
menggunakan pengetahuan motorik. Tahap ikonik, seseorang memahami objek-objek
atau dunianya melalui gambar-gambar dan visual verbal. Maksudnya dalam memahami
dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan dan perbandingan.
Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan
abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.
Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar nelalui sibol-simbol Bahasa,
logika, matematika dan sebagainya.
Aplikasi pada pembelajaran di SD misalnya
pada pembelajaran matematika di kelas 1 SD pada pembelajaran symbol-simbol
angka. Tahap enaktif dapat dilakukan dengan membewa benda asli misalnya membawa
dua buah jeruk. Tahap selanjutnya yaitu ikonik dengan menggambarkan dua buah
jeruk tersebut dipapantulis. Selanjutnya tahap simbolik yaitu dengan memberikan
symbol “2”.
Masing-masing Teori Belajar memang saling terkait,
dan memiliki kontribusi terhadap pembelajaran terutama di SD. Teori
Sosiokultural yang telah dijelaskan sebelumnya mempengaruhi Teori Kognitif
Terdistribusi, dan juga mempengaruhi Teori Aktivitas. Teori Aktivitas
dikemukakan oleh Leont’ev. Leont’ev menyatakan bahwa aktivitas bersifat
hierarkis. Aktivitas berada di puncak hierarkis diatas tindakan berorientasi
tujuan dan operasi yang mendasari (Hasan & Kazlauskas, 2014).Teori ini
mengangap bahwa tidak mungkin memisahkan aktivitas manusia dari konteks, yaitu
aktivitas adalag konteksnya. Dengan demikian, pengetahuan dan konteks tidak
dapat dipisahkan, jika tidak, risiko pengetahuan dilihat oleh siswa sebagai
hasil belajar daripada seperangkat alat untuk memecahkan masalah dalam proses
belajar mengajar yang seharusnya melibatkan siswa dalam konstruksi pengetahuan
bersama (Rowe, Bozalek, & Frantz dalam Batiibwe, 2019). Karena aktivitas
berada sesuai konteks maka aktivitas dapat berubah secara dinamis seiring
dengan perubahan kondisi. Hal ini dikarenakan tindakan secara sadar dodorong
oleh objek dan tujuan, maka ketika tujuan berubah, tindakan juga dapat berubah.
Teori Aktivitas mengemukakan elemen internal dan eksternal yang menyatu. Poin
kunci dari Teori Aktifitas adalah bahwa aktivitas adalah unit analisis
terkecil. Poin lain adalah adanya hubungan dengan alat yang dibuat oleh orang
untuk memediasi perilaku mereka sendiri, serta memiliki sejarah dan budayanya
sendiri. Adanya hubungan aktivitas dengan alat, maka Teori Aktivitas berguna
untuk analisis dan desain teknologi untuk HCI (human-computer interaction)
atau ineraksi manusia dengan komputer. Hal ini juga sesuai dengan pendapat dari
Gifford dan Enedy (Hashim, N.H. & Jones, M.L., 2007) bahwa Teori Aktivitas
adalah kerangka kerja yang sesuai yang melibatkan model pembangunan
pengetahuan, perspektif dan artefak untuk memandu desain kegiatan pembelajaran
kolaboratif yang didukung komputer.
Teori Aktivitas mampu menjelaskan sifat
dari aktivitas kolaboratif, dan menunjukkan bagaimana orang dapat
berpartisipasi secara sosial saat berinteraksi dengan teknologi. Hal ini
memungkinkan desain alat yang lebih optimal untuk mendukung kegiatan
pembelajaran kolaboratif yang didukung komputer secara efektif dalam berbagai
konteks, dan mengembangkan metode untuk mempraktikkannya. Keterbatasan dari
teori ini adalah terhadap pandangan pada budaya, luasnya aktivitas dalam
komunitas / organisasi (dikembangkan untuk individu), sulit bagi peneliti untuk
memperoleh pemahaman penuh tentang interaksi kompleks dari semua komponen.
Selain itu Teori Aktivitas tidak dapat menjelaskan perilaku yang tidak terduga
atau perubahan kondisi.
Aplikasi Teori Aktivitas pada pembelajaran
di SD ialah bahwa aktivitas terikat pada konteks maka, pembelajaran juga harus
mengarahkan kegiatan siswa pada kontes. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa
pembelajaran kontekstual sangat penting agar pembelajaran lebih bermakna,
kaitannya dengan aktivutas maka pembelajaran kontekstual ini menjadikan
aktivitas lebih bermakna. Aktivitas kontekstual yang dapat dilakukan ialah
dengan melakukan pembelajaran di lingkungan sekitar. Misalnya ketika
pembelajaran IPA tentang jenis-jenis daun, siswa dapat diajak ke halaman
sekolah, mengamati tanaman yang ada, kemudian mengamati daun-daunnya.
Selanjutnya dapat mempresentasikan (mengkomunikasikan) hasil pengamatannya.
Keterkaitan antar Teori Belajar menyebabkan
adanya kaitan dan pembahasan yang sama. Teori Sosiokulturan dan Belajar
Penemuan yang telah dijelaskan diatas merupakan bagian dari Teori
Konstruktivisme. Teori Konstruktivisme memandang siswa merupakan subjek
yang aktif membangun pengetahuannya sendiri. Dalam mengkostruksi pengetahuannya
siswa membutuhkan waktu untuk merefleksi, berfikir kritis, penalaran,
pengaturan diri dan mengatur berbagai persepektif, sehingga meraka harus
memiliki inisiatif belajar. Karena siswa dianggap sebagai oseubjek yang aktif
membangun pengetahunnya sendiri, maka aspek kunsi dari Konstruktivisme ialah
membutuhkan fleksibilitas yang substansial, untuk mewadahi pandangan-pandangan
yang berbeda. Aspek kunci lain dari pembelajaran Konstruktivisme ialah terjadi
pada konteks sosial. Hal ini berarti bahwa pemberian makna pada objek dan
pengalaman oleh individu tidak dilakukan sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan
melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam
budaya kelas maupun luar kelas (Budiningsih, 2005). Aspek kunci lain dari
Konstruktifisme ialah orang belajar melalui partisipasi aktif dan pemecahan
masalah, sehingga guru haruslah menjadi fasilitator. Menurut Schunk (2012),
dalam pembelajaran konstruktivis guru seharusnya membangun situasi-situasi
sedemikian rupa sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dengan materi
pelajaran melalui pengolahan materi-materi dan interaksi sosial. Lebih lanjut
Shunk menjalaskan bahwa aktivitas-aktivitas pembelajaran konstruktivis meliputi
mengamati fenomena-fenomen, mengumpulkan data-data, merumuskan dan menguji
hipotesis, dan bekerja sama dengan orang lain.
Konstruktivisme dapat melibatkan Magang
Kognitif yang memanfaatkan ZPD, Pelatihan, modelling, dan fading. Keempat
konsep tersebut serupa dengan Teori Sosiokultural dan Teori Kognitif terutama
Kognitif Sosial. Pada pembelajaran konstruktivis, dapat menggunakan Pembelajaran
Perbasis Proyek (Project-Based Learning) yang mendukung metakognisi. Pembelajaran
berbasis proyek adalah pendekatan komprehensif untuk pengajaran dan
pembelajaran di kelas yang dirancang untuk melibatkan siswa dalam penyelidikan
masalah otentik (Blumenfeld et.al, 1991). Adanya penyelidikan pada masalah
otentik ini bertujuan agar siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri. Selain
itu pembelajaran konstruktivis dapat pula dilakukan dengan Pembelajaran
Berbasis Kasus (Case-Based Learning) yang saling mensiport dengan
Pembelajaran Berbasis Proyek. Srinivasan et.al (2007) mengemukakan bahwa
Pembelajaran Berbasis Kasus ini sama dengan inkuiri terbimbing (guide
inquiry). Pembelajaran berbasis kasus ini menggunakan metode inkuiri
terpandu dan menyediakan lebih banyak struktur. Pembelajaran dilakuakn dengan
persiapan sebelumnya dan menfokuskan pada pemecahan masalah secara kreatif. Konstruuktivisme
dengan Pembelajaran Berkasus, adanya fasilitasi Kerjasama dan kolaborasi, dan
Magang Kognisi, ini mendukung Kognisi Berkonteks.
Aplikasi Konstruktivisme sangat penting
pada pembelajaran di SD. Karena konsep dari konstruktivisme ialah siswa sebagai
subjek yang aktif mencari pengetahuannya, maka siswa dikelas diarahkan pada
pembelajaran aktif, salah satunya dengan penerapan Pembelajaran Berbasis Kasus
atau inkuiri terbimbing. Konsep inkuiri terbimbing lebih cocok untuk siswa SD
disbanding inkuiri terbuka. Hal ini dikerenakan pada inkuiri terbimbing guru
telah menyiapkan bahan “penemuan” bagi siswa, sehingga kegiatan siswa lebih
terarah. Selain itu adanya bahan dari guru juga sebagai pancingan tentang
hal-hal apa yang perlu dicari atau ditemukan siswa. Contoh pembelajaran: dalam
materi jenis-jenis daun, guru menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
terlebih dahulu, kemudian dalam pencarian nya siswa mengikuti langkah-langkah
yang ada pada LKPD. LKPD diakhiri dengan kesimpulan dari siswa berdasaskan
kegiatan penemuan tersebut.
Konstruktivisme dagan komponen-komponennya
mendung Kognisi Berkonteks (Situated Cognition). Inti dari pemikiran
Konstruktivisme ialah bahwa proses-proses kognitif (termasuk berfikir dan
belajar) terletak pada situasi-situasi konteks-konteks fisik dan sosial
(Anderson, Reader & Simon, 1996). Sehingga dapat diartikan bahwa Kognisi
Berkonteks ialah pembelajaran pada situasi tertentu. Kunci dari Kognisi Sosial
ialah belajar dalam konteks atau lingkungan otentik. Kognisi Berkonteks
mengeksplorasi belajar sebagai berpartisipasi untuk organisasi, komunitas, dan
individual. Hal ini seperti yang dikemukakan Shunk (2012) bahwa
keyakinan-keyakinan dan pengetahuan terbentuk ketika orang berinteraksi dalam
situasi-situasi. Pandangan ini memanfaatkan komunikasi sebagai alat prakteknya,
sehingga Shunk (2012) mengatakan lebih lanjut bahwa kegiatan berfikir merupakan
hubungan timbal balik dengan konteks yang dikembangkan. Komunitas praktek juga
termasuk pada partisipasi peripferal yang yang didalamnya terdapat learning
trajectory. Learning Trajectory dapat diartikan sebagai deskripsi pemikiran
dan pembelajaran anak-anak dalam domain tertentu dan rute dugaan terkait
melalui serangkaian tugas instruksional yang dirancang untuk menimbulkan proses
mental atau tindakan yang dihipotesiskan untuk menggerakkan anak-anak melalui
perkembangan perkembangan tingkat berpikir, dibuat dengan maksud untuk
mendukung pencapaian tujuan spesifik anak dalam domain matematika tersebut
(Clements dalam Baker & Czarnocha, 2016). Learning Trajectory sebagai
partisipasi dari waktu ke waktu didefinisikan oleh Peripheral,
inbound, insider, boundary, dan outbond. Berdasarkan
penjelas-penjelasan diatas dapat dinyatakan bahwa, Kognisi Berkonteks tidak
memperhatikan info diluar individu dan budayanya serta menempatkan pengetahuan
diperoleh melalui praktik hifup dan tindakan yang berarti.
Aplikasi pada pembelajaran di SD dari
pandangan ini sama seperti pada pandangan sebelumnya, yaitu Konstruktivisme dan
teori Sosiokultural, Teori Kognitif, dimana pembelajaran akan lebih bermakna
jika disesuaikan pada konteksnya, dlakukan dengan aktivitas yang berarti serta
dilakukan dalam kerangka sosialisasi atau belajar bersama.
Kesimpulan dari kajian mengenai
Teori-teori Belajar dan Aplikasinya pada Pembelajaran di Sekolah Dasar ialah
bahwa semua teori memberikan kontribusi dengan bagian tersendiri. Teori belajar
tradisional seperti Behaviorisme dapat meberikan masukan mengenai adanya hadiah
dan hukuman, serta bagaiaman pemberian yang baik dan batasan-batasan dalam
pemberian hukuman tersebut. Teori baru yang ada yaitu Konektivisme dan Model
belajar on line tentunya sangat relevan diterapkan pada pembelajaran di SD
sekarang, dimana berkembangnya teknologi memperluas ruang dan waktu
pembelajaran. Teori-teori pembelajaran tradisional lain yaitu Pemrosesan
Informasi, Sosial Kognitif, dan Teori belajar Bermakna juga meberikan
kontribusinya tersendiri bagi pembelajaran di SD. Teori-teori baru yang ada
seperti Teori Kognitif, Teori Sosiokultural, Belajar Penemuan, Teori Aktivitas,
mengarah pada Pandangan Konstruktivisme yang selanjutnya menuju Kognisi
Berkonteks. Semua teori baru tersebut mengarah pada satu muara bahwa
pembelajaran, terutama bagi siswa SD harus dilakukan dalam konteksnya. Siswa
merupakan subjekbelajar yang aktif, sehingga pembelajaran diarahkan pada
mengkoostruksi pengetahuannya sendiri. Konstruksi pengetahuan ini dilakukan
dalam kerangka sosialisasi atau kegaitan bersama.
Daftar Pustaka
Anderson, J.R., Reader,L.M., & Simon, H.A. (1996).
Situated Learning and Education. Educational Research. 25 (4). 5-11.
Anderson, Terry.
(2011). The Theory and Practice of Online Learning: Second Edition. Edmonton:
AU Press Athabasca University.
Arend, Richard
& Ann Kilcher. (2010). Teaching for Student Learning: Becoming an
Accomplished Teacher. New York. Routledge.
Atkinston, R.C.,
& Shiffrin, R.M. (1968). Human Memory: A proposed system and its control
processes. Dalam K.W. Spence & J.T Spence. The Psychology of Learning
and motivation: Advances in Reseacrh and Theory (Vol 2. Hal. 89-195). New
York. Academic Press.
Ausubel, David P.,
(1962). A Subumption Theory of Meaningful Verbal Learning and Retention. The
Journal of General Psycjology. 66. 213-224.
Baker, W., &
Czarnocha, B., (2016). Learning Trajectory, dalam Czarnocha, B. The Creative
Enterprise of Mathematics Teaching Research. 343-349.
Bandura, Albert.
(1999). Social Cognitive Theory: An Agentic Persepective. Asian Journal of
Social Psychology. 2. 21-41.
Batibwe, Marjorie
Sarah Kabuye. (2019). Using Culture Historical Activity Theory to Understand
How Emerging Technologies can Mediate Teaching and Learning in a Mathematic
Classroom: a Review of Literature. RPTEL 14, 12.
Blumenfeld, P.C.,
Soloway, E., Marx, R.W., Krajict, J.S., Guzdial, M., & Palincsar, A.
(1991). Motivating Project-Based Learning: Sustaining the Doing, Supporting the
Learning, Educational Psychologist, 26:3-4, 369-398.
Bryan, James, H.,
& Walbek, Nancy Hodges. (1970). Preaching and practicing generasoty:
Children’s actions and Reactions. Child Development, 41,329-353.
Budiningsih, C.
Asri. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Campione, Joseph.,
Brown, Ann, L., Ferrara, Robert A., & Bryant, Nency R. (1984). The Zone of
proximal development: implications for individual differences and learning.
Dalam B. Rogoff & J.V Wertsch (Ed.), Children’s Learning In the “zone of
proximal development”. Hal 77-91. San Fransisko: Jossey Bass.
Granelo, D.
(2000). Contextual Teaching and Learning in Counselor Education. Counselor
Education and Supervision. 1. 270-287.
Hargenhahan, B.R
& Methhhew H. Olson. (2010). Theories of Learning edisi Terjemahan.
Jakarta: Kencana.
Hasan, Helen &
Kazlauskas, Alanah. (2014). Activity Theory: who is doing what, why, and how. Faculty
of Business-Papers (Archive). 403.
Hashim, N.H., & Jones, M.L.,
(2007). Activity
Theory: A framework for qualitative analysis. Faculty of Commerce – Papers.
Hutchin, E.
Cognition Distributed. In International Encyclopedia of the Social &
Behavioral Sciences (2001). Diakses pada https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B0080430767016363
Mayer, Richard E.
(1996). Learners as Information Processors: Legacies and Limitations of
Education Psychology’s Second Metaphor. Educational Psychologist, 31
(3/3), 151-161.
Mohammad,
Checkour., Ecole Normale Superieure Tetovan, & Morocco. (2020). Teaching
Electricity Between Pedagogy and Technology. Dalam Tedlaoui, Movenis Anovar
& Khaldi, Mohammed. Personalization and Collaboration in Adaptive
E-Learning. Dibaca pada https://books.google.co.id/books?id=IxTFDwAAQBAJ&pg=PA307&lpg=PA307&dq=Dupl%C3%A0a+%26+Talaat,+2012&source=bl&ots=xFhvoGA-o-&sig=ACfU3U2VkUuS38W2M4nTSM7MYiKE9ME58g&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiknevA9_TsAhWkW3wKHfwbCcgQ6AEwAXoECAEQAg#v=onepage&q=Dupl%C3%A0a%20%26%20Talaat%2C%202012&f=false
Piaget, Jean.
(1965). The Origins of Intelligence in Children. New York: International
Universities Press.
Rathus, Spencer A.
(2014). Childhood & Adolescence: Voyages in Development. New Kersey:
Wadaworth.
Schunk, Dale H.
(2012). Learning Theories: An Educational Perspective edisi terjemahan.
Yigyakarta: Pustaka Pelajar.
Siemens, George.
(2004). Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age. Diunduh pada: http://www.elearnspace.org/Articles/connectivism.htm
Srinivasan, M., Wilkes, M., Stevenson, F., Nguyen, T.,
Slavin, S., (2007). Comparing Problem-Based Learning with Case-Based Learning:
Effects of a Major Curricular Shift at Two Institutions. Academic Medicine.
82 , 1, 74-82.
Sangat bermanfat...
BalasHapusSangat bermanfat...
BalasHapus